PENGHANTAR UJI BEBAN
Load
testing merupakan testing yang sangat penting dalam pengujian crane. Sebab,
pada testing ini crane akan diuji keseluruhan fungsi alat dan unjuk kerja
pengangkatan pada semua kondisi operasi dengan beban yang mendekati, sama atau
bahkan melebihi kapasitas maksimumnya.
Atas
keadaan ini, maka load testing harus didasarkan atas pemeriksaan dan
perhitungan yang seksama, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan dengan baik,
tanpa menimbulkan accident atau kerusakan pada crane itu sendiri.
Module
ini disusun dengan harapkan dapat menjadi bekal dasar bagi Crane Inspector untuk
dapat melaksanakan tugas pemeriksan. Module
ini meliputi uraian tentang :
- Dasar pertimbangan load testing;
- Pre-inspection;
- Load rating
- Alat-alat uji;
- Pelaksanaan load testing;
- Pemeriksaan setelah load testing;
- Berita acara pemeriksaan;
- Tabel beban baru;
- Catatan penting lain tentang load testing
Load
Test – API-RP-2D Appendix E
A
Crane load test is required under the following conditions :
- New Cranes being placed into service
- Cranes that are being permanently relocated
- Temporary cranes after each rig-up relocation
Tujuan
Load testing:
Untuk
membuktikan secara nyata bahwa integritas crane tersebut dapat bekerja dengan
aman sesuai dengan fungsi dan rated capacity.
Ada
4 tahapan yang berkaitan dengan pelaksananaan load test :
Preliminary
inspection
Review
Procedure of load test dan Document/certificate terhadap semua item yang akan
dilibatkan dalam pelaksanaan Load Test.
- Certificates: Crane operator, Rigger, Signalman, Wire Rope, Rigging equipments (Sling dan shackle),
- Report: Load Chart, NDT Report.
- Calibration of Dynamoter
- Water Bag dan Pumping Unit
- Measurement Tape
- Manual book/Procedure of Load Test yang telah ditanda-tangani
- Work Permit dan Job Risk Assessment
- Safety Barrier/poice line
Load
Test dapat dilakukan atau tidak, tergantung dari hasil preliminary inspection
ini. Seorang crane inspector, berdasarkan hasil inspeksi nya sendiri dan review
hasil laporan dari NDT team, harus mampu untuk menentukan apakah Load test bisa
dilaksanakan atau tidak. Jika dari preliminary inspection ditemukan hal-hal
yang tidak sesuai dengan code atau legal aspek, maka load tidak boleh
dilaksanakan.
Contoh
findings: Crack di boom, crack di Hook (Main/Auxiliary), Wire rope yang tidak
sesuai dengan rated Capacity, Sertifikat operator crane telah expired, dll.
Seorang
CI harus membuat Report of preliminary inspection result yang menyatakan apakah
crane tersebut bisa di load test atau tidak. Report ini harus ditanda tangani
oleh CI, Owner dan MIGAS Inspector (jika ada).
Baca Juga ► Prosedur Mobile Crane , Pedestal Crane dan Overhead Crane
Saat
Pelaksanaan Load Test
Load
Test harus mengacu ke Load Chart/Tabel beban yang original atau nilai-nilai
beban lain yang telah disetujui oleh manufacturer. 2 kondisi akan dilakukan
saat pengujian, yaitu :
- Kondisi pertama dilakukan pada sudut boom kecil atau saat radius boom panjang dengan beban yang ringan.
- Kondis kedua dilakukan pada saat sudut boom besar atau radius boom pendek dengan beban sesuai dengan kapasitasnya.
Urut-urutan
pelaksanaan pembebanan hendaknya dibuat seaman mungkin dan mengacu ke prosedure
Load test yang telah disetujui.
Misal
: Sebelum melakukan pembebaban maximum pada masing-masing kondisi diatas, maka
kenaikan pembebanan dilakukan secara gradual dan dilakukan pengamatan/inspeksi
pada masing-masing tahap dibawah ini :
Tahap
1 – Berat beban uji 25% dari berat beban maximum pengetesan. Beban dinaikkan
dan ditahan setinggi 1 meter dari tanah datar dan ditahan 15 menit. Crane
Inspector harus melakukan pengamatan, pengukuran dan pengecekan sbb:
- Posisi ketinggian beban (terjadi penurunan atau tidak)
- Kondisi brake system (winch Drum brake)
- Kondisi Cylinder hoist boom, Hose dan Koneksi-koneksinya (adakah kebocoran ?)
- Presssure gauge: check valve (Adakah penurunan tekanan/pressure)
Jika
diketemukan anomaly/kerusakan, maka harus diperbaiki dahulu sebelum melanjutkan
tahap berikutnya. Namun, jika semua berfungsi dengan baik, maka dilanjutkan ke
Tahap 2.
Tahap
2 – Berat beban ditambah menjadi 50% dari beban maximum pengetesan. Beban tetap
ditahan pada ketinggian 1 meter dari ground dan ditahan 15 menit.
Crane
Inspector harus melakukan pengamatan dan pengecekan sebagaimana Tahap 1 diatas.
Jika semua berfungsi dengan baik, maka dilanjutkan ke Tahap 3.
Tahap
3 – Berat beban ditambah menjadi 75% dari beban maximum pengetesan. Beban tetap
ditahan pada ketinggian 1 meter dari ground dan ditahan 15 menit. Crane
Inspector harus melakukan pengamatan dan pengecekan sebagaimana Tahap 1 diatas.
Jika semua berfungsi dengan baik, maka dilanjutkan ke Tahap 4.
Tahap
4 – Berat beban ditambah menjadi 100% dari beban maximum pengetesan. Beban
tetap ditahan pada ketinggian 11 meter dari groond
dan ditahan 15 menit. Crane
Inspector harus melakkukan pengamatan
ddaann pengecekan sebagaimana Tahap 1 diatas dan tahap terakhir ini harus lebih
teliti dan tidak tergesa-gesa.
Tahap
1 s/d 4 tersebut dapat diimplementasikan pada seluruh tahapan Test Beban, baik dinamik
ataupun statik.
Post-Inspection
Setelah
pelaksanaan Load Test telah selesai dan tidak ditemukan hal-hal yang membuat
load test gagal, maka langkah selanjutnya adalah melakukan re-inspection dengan
item-item sama dengan preliminary inspection tersebut diatas. Jika dari hasil
post inspection ditemukan adanya kerusakan/cacat pada komponen-komponen yang
akan mempengaruhi keamanan dan kemampuan crane dalam penggunaan nantinya, maka
load test tersebut bisa dinyatakan gagal dan harus diulang lagi. Pengulangan
load test dilakukan setelah dilakukan reparasi/perbaikan pada bagian-bagian
yang rusak tersebut. Pada tahap inipun seorang CI juga harus mampu dan
confident untuk menyatakan apakah load test tersebut lulus atau gagal.
Pelaporan/Berita
Acara Pemeriksaan dan Tabel Beban Baru
Setelah
selesai Post-Inspection dan tidak diketemukan adanya kerusakan/anomaly yang
mempengarui integritas crane tersebut, maka seorang CI harus secepatnya memuat
Berita Acara Pemeriksaan yang dilengkapai dengan Tabel Beban Baru. Untuk
wilayah MIGAS, form untuk pembuatan berita acara ini adalah TI-UJ-PA. Berita
acara sangatlah penting bagi pemilik, karena dengan berita acara pemeriksaan
(yang dibuat menyerupai Form TI-UJ-PA) yang telah ditanda-tangani oleh
Inspektur Migas dan atau Third Party, maka Berita Acara Pemeriksaan ini dapat
dipergunakan sebagai ijin sementara sampai dengan keluarnya Operating Permit
yang diterbitkan oleh Dirjen MIGAS. Sehingga crane tersebut dapat dioperasikan
di wilayah kerja Migas secara langsung tanpa melanggar ketentuan.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan Load Test Untuk Offshore Pedestal Crane –menurut
API-RP-2D :
- Operasi crane dalam load testing harus mengikuti API-RP-2D edisi terakhir.
- Sebelum dan sesudah pengujian, crane harus diperiksa sesuai scope “Annual Inspection” dari API-RP-2D, 4.1.2.5. Perhatian hendaknya diberikan untuk Rigging yang digunakan dan Tag lines hendaknya digunakan saat load test.
- Akurasi test weight atau dynamometer harus telah diperiksa oleh seorang qualified inspector.
- Beban uji harus direncanakan sebelumnnya dengan memperhatikan hasil Pre-Inspection, tempat uji, tempat merangkai beban, dan juga adanya daerah-daerah bahaya yang harus dihindarkan.
- Jangan mempergunakan crane load indicator sebagai penunjuk beban. Pembacaan dan pencatatan di Crane Load indicator dapat dipergunakan sebagai verifikasi untuk Load indicator tersebut.
Crane
harus diuji dalam keadaan normal sebagaimana dia bekerja. Jangan dilakukan
penambahan partline, hydraulic pressure dan engine output, kecuali jika test
radius dibatasi oleh keadaan lokasi. Test load tidak harus mengikuti kapasitas
tertinggi sebagaimana ditunjukkan oleh rating chart.
Jika
crane tidak dibangun mengikuti API Specification 2C edisi ketiga atau
setelahnya, maka rencana pembebanan test load harus dikonsultasikan dengan
pabrik pembuatnya.
